Sungguh
Aku Mengagumimu
Aku
begitu kagum akan kesopananmu dalam
bertutur kata,
bukan
pada kepintaranmu merangkai kata-kata.
Aku
begitu terpesona pada budi pekertimu,
bukan
terpesona pada ketampanan dan keelokan parasmu.
Aku
begitu terpana pada kesederhanaan dalam setiap penampilan keseharianmu,
bukan
pada kekayaan yang ada pada dirimu.
Dan
sungguh, aku begitu kagum pada semangatmu yang tak kenal lelah dalam berdakwah,
yang tak
kenal letih menebar benih kebaikan.
Kamu, iya kamu. Entah sejak kapan rasa kagum
ini bermula. Mungkin dari seringnya kita berdiskusi, membicarakan permasalahan
yang terjadi di sekitar kita, membicarakan problem umat, membicarakan
organisasi dakwah. Di luar itu, kita memang jarang berkomunikasi. Karena aku
dan kamu sama-sama paham, kita sama-sama mengerti batasan berinteraksi dan
berkomunikasi antar lawan jenis yang bukan muhrim…...
Ruang sejuata mimpi, 16 Juli 2010
***
Kututup
buku diary-ku yang telah usang dan
menyimpannya di bawah bantal. Menulis curhatan sebelum tidur sudah menjadi
kebiasaanku. Meski hanya segores kisah tentang
hidupku, terkadang ku tuliskan semua keluh kesahku, kejadian
menyenangkan dan menyedihkan yang kulalui. Mungkin jika orang lain membacanya,
mereka akan tertawa. Tertawa karena gaya bahasaku ngga nyastra, seperti anak
SMP lagi curhat. Whatever orang lain mau berkata apa, toh ini hanya menulis di
buku diary. Aku juga tahu, bawha menulis itu sangat penting. Apalagi bagi
seorang Mahasiswa yang tiap hari makanannya tugas dan makalah. Sepertinya
menulis bagi mahasiswa sebuah keahlian yang harus dimiliki. Tapi masalahnya,
aku masih rada kaku kalau harus menulis semacam cerpen, artikel, apalagi puisi.
Ku melirik jam dinding, sudah menunjukan pukul 22.40 WIB, aku harus segera
istirahat, besok ada jadwal kuliah.