Selasa, 20 Januari 2015

Rahasia-Nya Selalu Indah

Sungguh Aku Mengagumimu
Aku begitu  kagum akan kesopananmu dalam bertutur kata,
bukan pada kepintaranmu merangkai kata-kata.
Aku begitu terpesona pada budi pekertimu,
bukan terpesona pada ketampanan dan keelokan parasmu.
Aku begitu terpana pada kesederhanaan dalam setiap penampilan keseharianmu,
bukan pada kekayaan yang ada pada dirimu.
Dan sungguh, aku begitu kagum pada semangatmu yang tak kenal lelah dalam berdakwah,
yang tak kenal letih menebar benih kebaikan.

Kamu, iya kamu. Entah sejak kapan rasa kagum ini bermula. Mungkin dari seringnya kita berdiskusi, membicarakan permasalahan yang terjadi di sekitar kita, membicarakan problem umat, membicarakan organisasi dakwah. Di luar itu, kita memang jarang berkomunikasi. Karena aku dan kamu sama-sama paham, kita sama-sama mengerti batasan berinteraksi dan berkomunikasi antar lawan jenis yang bukan muhrim…...
Ruang sejuata mimpi, 16 Juli 2010

***
Kututup buku diary-ku yang telah usang dan menyimpannya di bawah bantal. Menulis curhatan sebelum tidur sudah menjadi kebiasaanku. Meski hanya segores kisah tentang  hidupku, terkadang ku tuliskan semua keluh kesahku, kejadian menyenangkan dan menyedihkan yang kulalui. Mungkin jika orang lain membacanya, mereka akan tertawa. Tertawa karena gaya bahasaku ngga nyastra, seperti anak SMP lagi curhat. Whatever orang lain mau berkata apa, toh ini hanya menulis di buku diary. Aku juga tahu, bawha menulis itu sangat penting. Apalagi bagi seorang Mahasiswa yang tiap hari makanannya tugas dan makalah. Sepertinya menulis bagi mahasiswa sebuah keahlian yang harus dimiliki. Tapi masalahnya, aku masih rada kaku kalau harus menulis semacam cerpen, artikel, apalagi puisi. Ku melirik jam dinding, sudah menunjukan pukul 22.40 WIB, aku harus segera istirahat, besok ada jadwal kuliah.

***
“Shabahul Khair ustadzah, mau kuliah ya? Ma’as Salamah yah……” seorang santriyah menyapaku di koridor pondok.
“Shabahul Khair ukhti, iya mau kuliah. Fii Amanillah, syukron ya…” jawabku.
Aku sangat beruntung di beri kesempatan untuk tinggal di pondok pesantren Modern Raudhatul Jannah. Aku di amanahi untuk mengajar dan membimbing santri dalam tahfidzul Qur’an. Padahal ilmuku baru sedikit, aku masih perlu banyak belajar. Mereka, para santriyah sering bertanya tentang pemasalahan agama, atau persoalan-persoalan kecil kepadaku. Aku jadi merasa malu kepada-Mu ya Rabb, diri yang hina ini sering dipandang baik di mata santri. Padahal Engkau Maha Tahu segala apa yang ada dalam diri ini. Tapi aku selalu bertekad untuk menjadi akhwat yang shalehah, akhwat yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain. Terlepas dari semua itu, aku sangat bersyukur sekali Engkau menempatkanku disini. Aku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman di pondok pesantren ini.
            “Assalamu’alaikum.....” kuucapkan salam sebelum masuk ke kelas. Loh, kok ga ada orang? Pada kemana?
“hai teh Husna, kata bu Nina kita belajarnya di kantor Fakultas”. Ujar Hendra temanku. Sambil membetulkan letak kacamatanya. Temanku yang satu ini mirip Harry Potter kalo di lihat kacamatanya, hehe. Dia mempunyai kelihaian dalam berbicara. Ia bisa menyakinkan pendengar. Apapun yang dia katakan seolah-olah benar. Selain itu ia juga mempunyai wawasan yang luas. Pernah suatu ketika sedang berdiskusi tentang hukum di kelas ia menambahkan argumenya dengan dalil dari kitab Injil (yang jelas dia udah memaparkan dalil dari kitab Umat Islam). Aku geleng-geleng kepala. Supeer…
           
***
Senin yang cerah, tapi udara di kota Banjar terasa panas. Aku harus berangkat  liqa. Pekan ini di amanahi untuk menyampaikan kultum. Meski cuaca panas, aku harus segera bergegas. Meski sendiri aku harus tetap semangat mengaji.
“Gimana keputusannya neng Husna”? tanya Murobbiyahku setelah selesai liqa.
“Belum ada keputusan Umi, ana mau istikhoroh dulu”. Jawabku
“Baiklah, Umi tunggu jawabannya. Luruskan niatnya yah. Ketika istikharah, jangan sampai ada kecenderungan dulu. Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk neng Husna. Pasrahkan semuanya kepada Allah ”.  ujar Murobbiyahku memberi saran.
“Iya Mi, Insya Allah. Mohon do’anya juga dari Umi”.

            Beberapa pekan yang lalu, aku mendapatkan telpon dari seorang ustadz, beliau memberi kabar bahwa ada mutarobbinya yang ingin berta’aruf denganku, namanya Muhammad Fathan Mubina. Lalu aku memberikan no handphone murobbiyahku. Sampai saat ini aku belum memberikan jawaban atas kelanjutan ta’aruf ini. Aku dan mutarobbi ustadz itu baru saling tukar biodata. Sungguh, aku tidak pernah menduga sebelumnya. Ikhwan yang ingin berta’aruf denganku itu teman waktu SMA. Aku tahu ia sekarang telah berubah. Bahkan ia juga seorang penghafal Qur’an. Menurut kacamataku ia shaleh dan memiliki akhlak yang baik. Namun... dalam hati ini ada seseorang yang ku kagumi dalam diam. Ia seorang aktivis dakwah di kampusku, namanya Hasan Al-Banna. Aku bingung. Hasan juga ikhwan yang baik. Aku mengaguminya sejak pertama kali bertemu di organisasi dakwah. Entahlah, akan ku pinta jawaban dari-Nya.
Di keheningan malam, kutadahkan tanganku memohon petunjuk-Mu....
            “Ya Allah, ya Rahman ya Rahiim, Engkau Maha Tahu segalanya sedangkan aku tidak mengetahui sedikitpun dari ilmu-Mu. Engkau mengetahui apa yang tebaik untukku. Jika Fathan yang ingin bertaaruf denganku itu baik bagiku, baik bagi agamaku, baik untuk masa depanku, baik untuk dunia akhiratku, maka berikanlah jawaban dan keyakinan kepadaku. Namun jika menurut-Mu ia tidak baik untukku, untuk agamaku, untuk dunia akhiratku, maka jauhkanlah ia dariku. Dan berikanlah pengganti yang lebih baik darinya, aamiin”.
            Sejenak ku terpaku, menyapa Allah dengan Tanya tanpa suara, “Allahku, adakah dia yang aku tunggu selama ini?.” Antara ragu dan mantap silih berganti. Yang ku tekankan dalam diriku, wahai diri, ingatlah, karena Allah, karena Allah, karena Allah. Bukan karena aku, bukan karena dia, bukan karena selain-Nya. Seiring berjalannya waktu, dalam istikharah panjangku berdialog dengan Rabb-ku. Kutemukan kemantapan hatiku. Ya, aku maju untuk ta’aruf tahap selanjutnya.

***
Akhir bulan Agustus, Fathan dan keluarganya akan berkunjung ke rumahku untuk mengkhitbahku, aku mendapatkan informasinya dari ust. Ihsan, murobbinya Fathan. Masih ada waktu beberapa hari lagi. Saat ini aku sedang disibukkan oleh orientasi Mahasiswa baru di kampusku dan aku di beri amanah untuk menjadi divisi acara di kegiatan tersebut.
“teh Husna nanti  jangan jauh-jauh dari aula yah, bantu ana menyiapkan acara” kata Hasan selaku ketua divisi acara.
“iya akh, siap”. Jawabku semangat.
Acara orientasi Mahasiswa berlangsung selama 3 hari. Hari ini hari terakhir orientasi sekaligus penutupan. Tapi aku tidak bisa mengikuti acara sampai selesai. Aku bergegas menemui ketua BEM untuk meminta izin pulang terlebih dahulu karena mau ada acara di rumah. Ketika ditanya “acara apa?” aku jawab, “ acara keluarga”. Aku tidak bohong. Memang besok lusa mau ada acara dua keluarga di rumahku.

***
Anggota keluargaku sibuk menyiapkan segala sesuatunya, bahkan para tetanggapun ikut membantu memasak di rumahku. Tak terkecuali aku. Aku pun membantu menyiapkan cemilan dan kue-kue.
“de Husna, kira-kira jam berapa mereka datang ke rumah” tanya Ayahku.
“kurang tahu Yah, tadi sih ada sms berangkat dari sana jam 10an. Coba Ayah telpon aja. Nih pake handphone Ade.” Ujarku sambil menyodorkan handphone.
            Pukul 13.00 rombongan keluarga Fathan datang. Mereka sedang berjalan menuju ruamhku. Alhamdulillah semua hidangan telah siap, dan keluargaku pun sudah siap menyambut.
“ Husna dimana”? tanya Ibuku kepada kakak perempuanku.
“lagi di kamar”. Jawab kakakku singkat.
“Husna di kamar Bu, ni lagi pakai jilbab”, sahutku di dalam kamar. Duh, kok aku jadi deg-degan gini ya? Dari tadi make jilbab ga rapih-rapih mana kaos kaki ku hilang lagi. Lupa nyimpen. Akhirnya aku meminjam kaos kaki punya kakak.
Acara pun berjalan lancar. Aku duduk di samping Ibu. Suasana ga terlalu tegang karena pamanku membawa pembicaraan jadi lebih ringan. Mungkin pamanku tahu, aku dan Fathan lagi deg-degan ga karuan, hehe
Setelah pembicaraan tentang dua keluarga usai, berlanjut ke acara khitbah. Tiba-tiba ada sebuah pertanyaan yang seolah-olah membuat jantungku berhenti berdetak.
“Siapkah ukhti untuk menikah dengan ana dan menjadi pendamping hidup ana?” tanya Fathan dengan nada suara yang mantap dan menyakinkan.
Semua mata tertuju padaku. Mereka penasaran dengan jawabanku. Aku masih menata hati agar tidak terlihat nervous. Ku menarik nafas panjang. “Bismillah dengan menyebut asma Allah, Insya Allah Husna siap menikah dengan Akh Fathan”. Jawabku sambil menunduk malu.
“Alhamdulillah..... “seru semua orang yang ada di rumahku.


***
“Husna.....” seru Fani setengah berteriak. Dia kakak angkatan dikampusku. Kita satu Fakultas.
“Assalamu’alaikum teh Fani, ada apa kok pagi-pagi udah teriak-teriak?”. Tanyaku sambil membenarkan letak jilbabku.
“hehe ga ada apa-apa sih. Sini Na, duduk dulu. Ada yang mau aku omongin”. Ajak Fani sambil menarik lengan kananku.
“Kamu tahu ga Andi teman sekelasku?” tanya Fani. “Nggak, yang mana sih? Emang kenapa?”
“katanya dia pingin berteman denganmu, dia sering banget nitip salam buat kamu, tapi sepertinya dia menyukaimu”
“Ih, apaan sih teh Fani, dia mau berteman kan? Ya silahkan aja. Tapi jangan lebih dari itu yah. Kirain teh Fani mau ngasih kabar aku dapat hadiah mobil dari Bank, hehe... ya udah aku mau ke kelas dulu ya teh, takut keburu ada dosen, Assalamu’alaikum...”

***
Adzan shubuh berkumandang. Aku bergegas pergi ke Masjid untuk shalat berjama’ah, namun kulangkahkan kaki ke asrama para santri terlebih dahulu, untuk mengecek apakah ada santri yang belum bangun atau belum berangkat ke Masjid. Udara pagi ini memang sangat dingin, namun bagi orang mukmin itu bukan halangan untuk tetap menunaikan shalat shubuh. Teringat perkataan Allah dalam surat Al-Isra ayat 78 yang menyatakan bahwa shalat shubuh itu disaksikan oleh para Malaikat.
Ba’da shubuh seperti biasa para santri harus mengikuti tahfidzul Qur’an dan menyetorkan hafalannya ke pembimbing masing-masing. Aku sendiri di amanahi untuk membimbing santri takhosus. Mereka ini para santri yang harus menyetorkan hafalan lebih dari para santri yang lain. Kalau santri yang lain menyetorkan hafalan hanya beberapa ayat, santri takhosus ini wajib menyetorkan hafalan minimal satu halaman tiap paginya.
Sambil menunggu para santri yang sedang menghafal, aku biasanya membaca Qur’an, meneruskan batasan tilawahku. Kuedarkan pandangan mataku untuk melihat para santri yang sedang menghafal di sekitar Masjid. Mataku tertuju kepada salah satu santri yang sedang menghafal sambil menahan kantuk. Lucu juga lihatnya, hehe.. kepala manggut-manggut, sambil melafalkan ayat demi ayat. Terkadang mushaf yang ditangannya sampai jatuh. Teringat kisahku dulu sewaktu menghafal di Ma’had Tahfidz, aku pun merasakan hal yang sama. Mata ngantuk ga ketulungan. Aku mengambil air wudlu berharap hilang rasa ngantuknya. Namun beberapa menit kemudian rasa ngantuk itu datang lagi. Akhirnya aku menghafal sambil berdiri, terkadang sambil jalan-jalan. Pokoknya aku mencari cara agar tidak mengantuk ketika menghafal. Aku harus dapat minimal satu lembar setengah untuk setoran besok pagi ke pembimbingku. Aku bukan tipe seperti Salma temanku, yang sekali duduk, lalu dia hafal seperempat juz. Aku harus berusaha keras tiap harinya agar bisa menyetorkan hafalan. Terkadang kalau konsentrasiku lagi baik aku juga bisa menghafal seperempat juz.
“Ana mau setor ustadzah…” kata Indi salah satu santri tahfidz takhosus sambil duduk di sampingku.
“hayya, tafadhal ukhti,,,” jawabku. Pagi ini Indi menyetorkan surat An-Nisa ayat 141 sampai 147, halaman terakhir di juz 5.
Setelah Indi selesai menyetorkan hafalannya, Vinki datang dan duduk di depanku. Aku perhatikan semangat Vinki kok akhir-akhir menurun. Seharusnya dia sudah selesai tasmi’ juz 3, tapi ini sudah beberapa hari belum beres juga. Apa mungkin lagi ada masalah ya?
“Vinki, ustadzah mau tanya, semangat Vinki lagi down ya? Kok tasmi’nya belum beres juga. Kenapa, lagi ada masalah ya?” Tanyaku
Raut muka Vinki jadi berubah setelah aku bertanya seperti itu. Matanya berkaca-kaca. Duh, apa aku salah ya? Sambil berlinang air mata Vinki bercerita perihal yang menyebabkan down semangatnya.
“Iya ustadzah afwan, ana juga sebenarnya malu sama antum, udah beberapa hari tasmi’nya belum beres juga. Ana belum bisa ngebagi waktu ustadzah..., sore ana jaga koprasi. Terus sekarang mah tiap malam ada kumpulan. Itu juga kumpulannya suka nyampe malem banget. Dulu sebelum tidur ana suka ngafal, tapi sekarang mah jadi ga konsen ustadzah, ana ga bisa.....” Vinki bercerita sambil menangis tersedu.
Aku mendengar curhatannya dengan seksama. Ya, aku sangat memaklumi itu. Selain menjadi ketua kamar, Vinki juga termasuk pengurus organisasi pelajar dan di amanahi menjadi bagian koprasi. Kegiatan santri di pondok ini sangat padat. Pagi hari mereka belajar di sekolah hingga pukul 14.00, sore kegiatan ekstrak, magrib tahfidz (muroja’ah), ba’da isya ada pemberian kosa kata bahasa Arab dan Inggris dan belajar mandiri. Apalagi akhir-akhir ini mereka juga disibukkan oleh persiapan lomba perkemahan, ya mungkin membutuhkan banyak musyawarah antar kelompoknya. Dan mereka ba’da shubuh harus bisa menyetorkan hafalan baru. Aku salut sama santri takhosus, mereka yang kegiatannya padat, tapi masih bisa menyempatkan untuk setoran di pagi harinya.
            Akhirnya aku menasehati Vinki dan memberikan sedikit solusi. “Seorang santri ketika bisa menghafal di waktu senggang itu biasa, semua orang juga bisa melakukannya. Namun jika ada orang yang bisa menghafal di tengah-tengah kesibukannya itu baru luar biasa. Tidak semua orang bisa seperti itu. Jangan lelah untuk terus mengulang, ingat, setelah kesusahan pasti akan datang kemudahan. Semangat ya Vinki......”
            “Ayo siapa yang sudah siap setoran?” tanyaku kepada seluruh santri takhosus.
Mereka serempak datang dan duduk melingkar di sekitarku.
“Ustadzah, ana belum lancar....” kata Hana, santri tahfidz takhosus yang masih kelas dua SMP.
“Iya Ustadzah, ana juga baru dapet setengah halaman....”
“Ana juga......Ana juga... Ana juga.....”
Semua santri mengungkapkan hal yang sama. Intinya mereka belum siap setoran sekarang.
“Ustadzah, ana udah ngafalin bolak-balik, tapi tetap saja ga hafal-hafal. Ana suka ketuker terus kata-katanya”. Celetuk salah seorang santri.
“oh gitu? Memang ada masa-masanya kita susah untuk konsentrasi. Mungkin salah satu faktornya kita lagi mempunyai masalah. Dan ada saat dimana kita merasa ayat yang sedang kita hafal itu susah. Bahkan adakalanya disuatu kondisi kita merasa malas sekali untuk menghafal. Wajar bila seorang yang sedang menghafal Qur’an merasakan itu. Ana sendiri juga sering merasakan kesulitan atau terjangkit penyakit malas. Namun jika kita pasrah dengan keadaan, atau kita menyerah karena merasa kesulitan, kita tidak akan pernah bisa menghafal. Allah berfirman dalam surat Al-Qamar “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan....” ayat ini diulang hingga 4 kali. Iya udah ana maklumi. Ana kasih dispensasi setorannya ba’da asar aja. Tapi kalian jangan menyerah yah....”
Iya Ustadzah, Insya Allah....” mereka pun pamit sambil menyalamiku.


***
            Tahukah kau wahai calon suamiku? Awalnya aku tidak memiliki rasa yang spesial untukmu. Bahkan ketika kita berproses pun rasa cinta itu belum juga hadir. Namun, sejak kau beserta keluargamu datang untuk melamarku, benih-benih cinta itu mulai tumbuh.
Tahukah kau wahai calon imamku? Sudah banyak lelaki yang menyatakan cintanya kepadaku dan menyatakan ingin menikahiku. Ketika banyak lelaki yang hanya berkata, kau datang dengan aksi yang nyata. Hanya kau yang berani menghadap orangtuaku untuk mengutarakan keseriusanmu menikahiku.
Tahukah kau wahai calon suamiku? Aku selalu berdo’a, agar Allah meridhai setiap proses yang kita lalui. Aku selalu menginginkan barakah dari-Nya.
Wahai calon ayah dari anak-anakku, mari kita jaga hati-hati kita. Aku tahu, kau pun memiliki rasa cinta untukku. Biarkan rasa cinta kita terbingkai dalam ridha-Nya. Biarlah ia indah pada waktunya. Semoga Allah meridhai setiap langkah kita. Aamiin.....

Ruang sejuta mimpi, 11 September 2010

            Malam semakin larut, kututup buku diary-ku dan ku lirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 23.05. Tapi mata ini tidak bisa kupejamkan. Jarang sekali aku merasa susah untuk tidur di malam hari. Aku mengambil buku Pengantar Ilmu Hukum, barangkali setelah membaca rasa kantuk akan datang. Dan benar saja, baru juga 15 menit aku membaca, aku mulai mengantuk. Memang membaca buku yang penuh dengan teori itu membosankan. Lain halnya dengan membaca buku cerita, novel misalnya, mataku sanggup bertahan untuk menghabiskan seluruh halamannya. Bahkan aku pernah membaca novel yang berjumlah 500 halaman hanya dalam waktu semalam!
           
***
            Selesai mengajar, aku iseng buka Fb, udah lama ga nengok beranda, hehe. Aku membuka notification, hari ini tanggal 13 September Fathan ulang tahun. Ingin rasanya ku ucapkan selamat dan menuliskan sebaris do’a. Tapi kuurungkan. Aku tidak berani. Lagian buat apa, toh aku dan Fathan baru hanya sebatas Khitbah, kita belum ada ikatan halal. Tapi tahukah kau Fathan, dalam diam kuterus mendo’akanmu. Semoga Allah selalu menjagamu, mempermudah semua urusanmu. Dan semoga Allah sampaikan isi hati ini melalui do’a yang khusus kutitipkan untukmu.  Aku dan Fathan Insya Allah akan menikah di bulan Maret. Keluargaku juga keluarganya telah merencanakan segala sesuatunya. Aku dan Fathan awalnya tidak setuju, karena itu terlalu lama. Kita paham, bahwa jarak khitbah ke pernikahan sebaiknya jangan terlalu lama, karena pasti akan banyak godaannya, apalgi seorang akhwat. Tapi orangtua kami menjelaskan bahwa mereka membutuhkan persiapan. Apalagi orangtuaku, yang kemarin sudah mengadaan walimah pernikahan kakakku. Aku memang tak pernah tahu, apakah kedepannya semua akan berjalan sesuai rencanaku, rencananya, rencana kami. Tapi satu yang membuatku selalu yakin, rencana-Nya adalah rencana terbaik bagi kami. Aku yakin itu sepenuhnya. Dengan cara-Nya yang indah meski hati terus ditempa untuk bersabar. Sebab kuyakin sabar itu berakhir indah.....








Menikah:
Ihdal Husnayain & Muhammad Fathan Mubina.
Maret 2011.


Sebuah Cerpen,
oleh: Eliana Rosy

1 komentar: