Sungguh
Aku Mengagumimu
Aku
begitu kagum akan kesopananmu dalam
bertutur kata,
bukan
pada kepintaranmu merangkai kata-kata.
Aku
begitu terpesona pada budi pekertimu,
bukan
terpesona pada ketampanan dan keelokan parasmu.
Aku
begitu terpana pada kesederhanaan dalam setiap penampilan keseharianmu,
bukan
pada kekayaan yang ada pada dirimu.
Dan
sungguh, aku begitu kagum pada semangatmu yang tak kenal lelah dalam berdakwah,
yang tak
kenal letih menebar benih kebaikan.
Kamu, iya kamu. Entah sejak kapan rasa kagum
ini bermula. Mungkin dari seringnya kita berdiskusi, membicarakan permasalahan
yang terjadi di sekitar kita, membicarakan problem umat, membicarakan
organisasi dakwah. Di luar itu, kita memang jarang berkomunikasi. Karena aku
dan kamu sama-sama paham, kita sama-sama mengerti batasan berinteraksi dan
berkomunikasi antar lawan jenis yang bukan muhrim…...
Ruang sejuata mimpi, 16 Juli 2010
***
Kututup
buku diary-ku yang telah usang dan
menyimpannya di bawah bantal. Menulis curhatan sebelum tidur sudah menjadi
kebiasaanku. Meski hanya segores kisah tentang
hidupku, terkadang ku tuliskan semua keluh kesahku, kejadian
menyenangkan dan menyedihkan yang kulalui. Mungkin jika orang lain membacanya,
mereka akan tertawa. Tertawa karena gaya bahasaku ngga nyastra, seperti anak
SMP lagi curhat. Whatever orang lain mau berkata apa, toh ini hanya menulis di
buku diary. Aku juga tahu, bawha menulis itu sangat penting. Apalagi bagi
seorang Mahasiswa yang tiap hari makanannya tugas dan makalah. Sepertinya
menulis bagi mahasiswa sebuah keahlian yang harus dimiliki. Tapi masalahnya,
aku masih rada kaku kalau harus menulis semacam cerpen, artikel, apalagi puisi.
Ku melirik jam dinding, sudah menunjukan pukul 22.40 WIB, aku harus segera
istirahat, besok ada jadwal kuliah.
***
“Shabahul Khair ustadzah, mau kuliah ya? Ma’as Salamah yah……”
seorang santriyah menyapaku di koridor pondok.
“Shabahul Khair ukhti, iya mau kuliah. Fii Amanillah, syukron ya…”
jawabku.
Aku
sangat beruntung di beri kesempatan untuk tinggal di pondok pesantren Modern Raudhatul Jannah. Aku di amanahi untuk mengajar dan membimbing santri dalam
tahfidzul Qur’an. Padahal ilmuku baru sedikit, aku masih perlu banyak belajar. Mereka,
para santriyah sering bertanya tentang pemasalahan agama, atau
persoalan-persoalan kecil kepadaku. Aku jadi merasa malu kepada-Mu ya Rabb,
diri yang hina ini sering dipandang baik di mata santri. Padahal Engkau Maha
Tahu segala apa yang ada dalam diri ini. Tapi aku selalu bertekad untuk menjadi
akhwat yang shalehah, akhwat yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain.
Terlepas dari semua itu, aku sangat bersyukur sekali Engkau menempatkanku
disini. Aku mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman di pondok pesantren ini.
“Assalamu’alaikum.....” kuucapkan salam
sebelum masuk ke kelas. Loh, kok ga
ada orang? Pada kemana?
“hai teh Husna, kata bu Nina kita belajarnya di kantor Fakultas”. Ujar Hendra
temanku. Sambil membetulkan letak kacamatanya. Temanku yang satu ini mirip
Harry Potter kalo di lihat kacamatanya, hehe. Dia mempunyai kelihaian dalam
berbicara. Ia bisa menyakinkan pendengar. Apapun yang dia katakan seolah-olah
benar. Selain itu ia juga mempunyai wawasan yang luas. Pernah suatu ketika
sedang berdiskusi tentang hukum di kelas ia menambahkan argumenya dengan dalil
dari kitab Injil (yang jelas dia udah memaparkan dalil dari kitab Umat Islam).
Aku geleng-geleng kepala. Supeer…
***
Senin yang cerah, tapi udara di kota Banjar terasa panas. Aku harus
berangkat liqa. Pekan ini di amanahi untuk menyampaikan kultum.
Meski cuaca panas, aku harus segera bergegas. Meski sendiri aku harus tetap
semangat mengaji.
“Gimana keputusannya neng Husna”? tanya
Murobbiyahku setelah selesai liqa.
“Belum ada keputusan Umi, ana mau istikhoroh
dulu”. Jawabku
“Baiklah, Umi tunggu jawabannya. Luruskan niatnya yah. Ketika istikharah,
jangan sampai ada kecenderungan dulu. Karena Allah Maha Tahu apa yang terbaik
untuk neng Husna. Pasrahkan semuanya kepada Allah ”. ujar Murobbiyahku memberi saran.
“Iya Mi, Insya Allah. Mohon do’anya juga dari Umi”.
Beberapa pekan yang lalu,
aku mendapatkan telpon dari seorang ustadz, beliau memberi kabar bahwa ada
mutarobbinya yang ingin berta’aruf denganku, namanya Muhammad Fathan Mubina. Lalu
aku memberikan no handphone murobbiyahku. Sampai saat ini aku belum memberikan
jawaban atas kelanjutan ta’aruf ini. Aku dan mutarobbi ustadz itu baru saling
tukar biodata. Sungguh, aku tidak pernah menduga sebelumnya. Ikhwan yang ingin
berta’aruf denganku itu teman waktu SMA. Aku tahu ia sekarang telah berubah.
Bahkan ia juga seorang penghafal Qur’an. Menurut kacamataku ia shaleh dan
memiliki akhlak yang baik. Namun... dalam hati ini ada seseorang yang ku kagumi
dalam diam. Ia seorang aktivis dakwah di kampusku, namanya Hasan Al-Banna. Aku bingung. Hasan
juga ikhwan yang baik. Aku mengaguminya sejak pertama kali bertemu di
organisasi dakwah. Entahlah, akan ku pinta jawaban dari-Nya.
Di keheningan malam, kutadahkan tanganku memohon petunjuk-Mu....
“Ya Allah, ya Rahman ya
Rahiim, Engkau Maha Tahu segalanya sedangkan aku tidak mengetahui sedikitpun
dari ilmu-Mu. Engkau mengetahui apa yang tebaik untukku. Jika Fathan yang ingin
bertaaruf denganku itu baik bagiku, baik bagi agamaku, baik untuk masa depanku,
baik untuk dunia akhiratku, maka berikanlah jawaban dan keyakinan kepadaku.
Namun jika menurut-Mu ia tidak baik untukku, untuk agamaku, untuk dunia
akhiratku, maka jauhkanlah ia dariku. Dan berikanlah pengganti yang lebih baik
darinya, aamiin”.
Sejenak ku terpaku,
menyapa Allah dengan Tanya tanpa suara, “Allahku, adakah dia yang aku tunggu
selama ini?.” Antara ragu dan mantap silih
berganti. Yang ku tekankan dalam diriku, wahai diri, ingatlah, karena Allah,
karena Allah, karena Allah. Bukan karena aku, bukan karena dia, bukan karena
selain-Nya. Seiring berjalannya waktu, dalam istikharah
panjangku berdialog dengan Rabb-ku. Kutemukan kemantapan hatiku. Ya, aku maju
untuk ta’aruf tahap selanjutnya.
***
Akhir bulan Agustus, Fathan dan keluarganya akan
berkunjung ke rumahku untuk mengkhitbahku, aku mendapatkan informasinya dari
ust. Ihsan, murobbinya Fathan. Masih ada waktu beberapa hari lagi. Saat ini aku
sedang disibukkan oleh orientasi Mahasiswa baru di kampusku dan aku di beri
amanah untuk menjadi divisi acara di kegiatan tersebut.
“teh Husna nanti jangan jauh-jauh
dari aula yah, bantu ana menyiapkan acara” kata Hasan selaku ketua divisi
acara.
“iya akh, siap”. Jawabku semangat.
Acara orientasi Mahasiswa berlangsung selama 3 hari. Hari ini hari terakhir
orientasi sekaligus penutupan. Tapi aku tidak bisa mengikuti acara sampai
selesai. Aku bergegas menemui ketua BEM untuk meminta izin pulang terlebih
dahulu karena mau ada acara di rumah. Ketika ditanya “acara apa?” aku jawab, “
acara keluarga”. Aku tidak bohong. Memang besok lusa mau ada acara dua keluarga
di rumahku.
***
Anggota keluargaku sibuk menyiapkan segala sesuatunya,
bahkan para tetanggapun ikut membantu memasak di rumahku. Tak terkecuali aku.
Aku pun membantu menyiapkan cemilan dan kue-kue.
“de Husna, kira-kira jam berapa mereka datang ke rumah” tanya Ayahku.
“kurang tahu Yah, tadi sih ada sms berangkat dari sana jam 10an. Coba Ayah
telpon aja. Nih pake handphone Ade.” Ujarku sambil menyodorkan handphone.
Pukul 13.00 rombongan keluarga
Fathan datang. Mereka sedang berjalan menuju ruamhku. Alhamdulillah semua hidangan
telah siap, dan keluargaku pun sudah siap menyambut.
“ Husna dimana”? tanya Ibuku kepada kakak perempuanku.
“lagi di kamar”. Jawab kakakku singkat.
“Husna di kamar Bu, ni lagi pakai jilbab”, sahutku di dalam kamar. Duh, kok
aku jadi deg-degan gini ya? Dari tadi make jilbab ga rapih-rapih mana kaos kaki
ku hilang lagi. Lupa nyimpen. Akhirnya aku meminjam kaos kaki punya kakak.
Acara pun berjalan lancar. Aku duduk di samping Ibu. Suasana ga terlalu
tegang karena pamanku membawa pembicaraan jadi lebih ringan. Mungkin pamanku
tahu, aku dan Fathan lagi deg-degan ga karuan, hehe
Setelah pembicaraan tentang dua keluarga usai, berlanjut ke acara khitbah.
Tiba-tiba ada sebuah pertanyaan yang seolah-olah membuat jantungku berhenti
berdetak.
“Siapkah ukhti untuk menikah dengan ana dan menjadi pendamping hidup ana?” tanya
Fathan dengan nada suara yang mantap dan menyakinkan.
Semua mata tertuju padaku. Mereka penasaran dengan jawabanku. Aku masih
menata hati agar tidak terlihat nervous. Ku menarik nafas panjang. “Bismillah
dengan menyebut asma Allah, Insya Allah Husna siap menikah dengan Akh Fathan”.
Jawabku sambil menunduk malu.
“Alhamdulillah..... “seru semua
orang yang ada di rumahku.
***
“Husna.....” seru Fani setengah berteriak. Dia kakak angkatan dikampusku.
Kita satu Fakultas.
“Assalamu’alaikum teh Fani, ada apa kok pagi-pagi udah teriak-teriak?”. Tanyaku sambil membenarkan letak
jilbabku.
“hehe ga ada apa-apa sih. Sini Na, duduk dulu. Ada yang mau aku omongin”.
Ajak Fani sambil menarik lengan kananku.
“Kamu tahu ga Andi teman sekelasku?” tanya Fani. “Nggak, yang mana sih?
Emang kenapa?”
“katanya dia pingin berteman denganmu, dia sering banget nitip salam buat
kamu, tapi sepertinya dia menyukaimu”
“Ih, apaan sih teh Fani, dia mau berteman kan? Ya silahkan aja. Tapi jangan
lebih dari itu yah. Kirain teh Fani mau ngasih kabar aku dapat hadiah mobil
dari Bank, hehe... ya udah aku mau ke kelas dulu ya teh, takut keburu ada
dosen, Assalamu’alaikum...”
***
Adzan shubuh berkumandang. Aku bergegas pergi ke Masjid
untuk shalat berjama’ah, namun kulangkahkan kaki ke asrama para santri terlebih
dahulu, untuk mengecek apakah ada santri yang belum bangun atau belum berangkat
ke Masjid. Udara pagi ini memang sangat dingin,
namun bagi orang mukmin itu bukan halangan untuk tetap menunaikan shalat
shubuh. Teringat perkataan Allah dalam surat Al-Isra ayat 78 yang menyatakan
bahwa shalat shubuh itu disaksikan oleh para Malaikat.
Ba’da
shubuh seperti biasa para santri harus mengikuti tahfidzul Qur’an dan
menyetorkan hafalannya ke pembimbing masing-masing. Aku sendiri di amanahi
untuk membimbing santri takhosus. Mereka ini para santri yang harus menyetorkan
hafalan lebih dari para santri yang lain. Kalau santri yang lain menyetorkan
hafalan hanya beberapa ayat, santri takhosus ini wajib menyetorkan hafalan
minimal satu halaman tiap paginya.
Sambil
menunggu para santri yang sedang menghafal, aku biasanya membaca Qur’an,
meneruskan batasan tilawahku. Kuedarkan pandangan mataku untuk melihat para
santri yang sedang menghafal di sekitar Masjid.
Mataku tertuju kepada salah satu santri yang sedang menghafal sambil menahan
kantuk. Lucu juga lihatnya, hehe.. kepala manggut-manggut, sambil melafalkan
ayat demi ayat. Terkadang mushaf yang ditangannya sampai jatuh. Teringat
kisahku dulu sewaktu menghafal di Ma’had Tahfidz, aku pun merasakan hal yang
sama. Mata ngantuk ga ketulungan. Aku mengambil air wudlu berharap hilang rasa
ngantuknya. Namun beberapa menit kemudian rasa ngantuk itu datang lagi. Akhirnya aku menghafal sambil
berdiri, terkadang sambil jalan-jalan. Pokoknya aku mencari cara agar tidak mengantuk
ketika menghafal. Aku harus dapat minimal satu lembar setengah untuk setoran
besok pagi ke pembimbingku. Aku bukan tipe seperti Salma temanku, yang sekali
duduk, lalu dia hafal seperempat juz. Aku harus berusaha keras tiap harinya
agar bisa menyetorkan hafalan. Terkadang kalau konsentrasiku lagi baik aku juga
bisa menghafal seperempat juz.
“Ana
mau setor ustadzah…” kata Indi salah satu santri tahfidz takhosus sambil duduk
di sampingku.
“hayya,
tafadhal ukhti,,,” jawabku. Pagi ini Indi menyetorkan surat An-Nisa ayat 141
sampai 147, halaman terakhir di juz 5.
Setelah
Indi selesai menyetorkan hafalannya, Vinki datang dan duduk di depanku. Aku perhatikan
semangat Vinki kok akhir-akhir menurun. Seharusnya dia sudah selesai tasmi’ juz
3, tapi ini sudah beberapa hari belum beres juga. Apa mungkin lagi ada masalah
ya?
“Vinki, ustadzah mau tanya, semangat Vinki lagi down ya?
Kok tasmi’nya belum beres juga. Kenapa, lagi ada masalah ya?” Tanyaku
Raut muka Vinki jadi berubah setelah aku bertanya seperti
itu. Matanya berkaca-kaca. Duh, apa aku salah ya? Sambil berlinang air mata
Vinki bercerita perihal yang menyebabkan down semangatnya.
“Iya ustadzah afwan, ana juga sebenarnya malu sama antum,
udah beberapa hari tasmi’nya belum beres juga. Ana belum bisa ngebagi waktu
ustadzah..., sore ana jaga koprasi. Terus sekarang mah tiap malam ada kumpulan.
Itu juga kumpulannya suka nyampe malem banget. Dulu sebelum tidur ana suka
ngafal, tapi sekarang mah jadi ga konsen ustadzah, ana ga bisa.....” Vinki
bercerita sambil menangis tersedu.
Aku mendengar curhatannya dengan seksama. Ya, aku sangat
memaklumi itu. Selain menjadi ketua kamar, Vinki juga termasuk pengurus
organisasi pelajar dan di amanahi menjadi bagian koprasi. Kegiatan santri di
pondok ini sangat padat. Pagi hari mereka belajar di sekolah hingga pukul
14.00, sore kegiatan ekstrak, magrib tahfidz (muroja’ah), ba’da isya ada
pemberian kosa kata bahasa Arab dan Inggris dan belajar mandiri. Apalagi
akhir-akhir ini mereka juga disibukkan oleh persiapan lomba perkemahan, ya
mungkin membutuhkan banyak musyawarah antar kelompoknya. Dan mereka ba’da shubuh
harus bisa menyetorkan hafalan baru. Aku salut sama santri takhosus, mereka
yang kegiatannya padat, tapi masih bisa menyempatkan untuk setoran di pagi
harinya.
Akhirnya aku menasehati
Vinki dan memberikan sedikit solusi. “Seorang santri ketika bisa menghafal di
waktu senggang itu biasa, semua orang juga bisa melakukannya. Namun jika ada
orang yang bisa menghafal di tengah-tengah kesibukannya itu baru luar biasa.
Tidak semua orang bisa seperti itu. Jangan lelah untuk terus mengulang, ingat,
setelah kesusahan pasti akan datang kemudahan. Semangat ya Vinki......”
“Ayo siapa yang sudah siap
setoran?” tanyaku kepada seluruh santri takhosus.
Mereka serempak datang dan duduk melingkar di sekitarku.
“Ustadzah, ana belum lancar....” kata Hana, santri tahfidz takhosus yang
masih kelas dua SMP.
“Iya Ustadzah, ana juga baru dapet setengah halaman....”
“Ana juga......Ana juga... Ana juga.....”
Semua santri mengungkapkan hal yang sama. Intinya mereka belum siap setoran
sekarang.
“Ustadzah, ana udah ngafalin bolak-balik, tapi tetap saja ga hafal-hafal.
Ana suka ketuker terus kata-katanya”. Celetuk salah seorang santri.
“oh gitu? Memang ada masa-masanya kita susah untuk konsentrasi. Mungkin
salah satu faktornya kita lagi mempunyai masalah. Dan ada saat dimana kita
merasa ayat yang sedang kita hafal itu susah. Bahkan adakalanya disuatu kondisi
kita merasa malas sekali untuk menghafal. Wajar bila seorang yang sedang
menghafal Qur’an merasakan itu. Ana sendiri juga sering merasakan kesulitan
atau terjangkit penyakit malas. Namun jika kita pasrah dengan keadaan, atau
kita menyerah karena merasa kesulitan, kita tidak akan pernah bisa menghafal. Allah
berfirman dalam surat Al-Qamar “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an
untuk peringatan....” ayat ini diulang hingga 4 kali. Iya udah ana maklumi. Ana
kasih dispensasi setorannya ba’da asar aja. Tapi kalian jangan menyerah yah....”
Iya Ustadzah, Insya Allah....” mereka pun pamit sambil menyalamiku.
***
Tahukah kau wahai calon suamiku? Awalnya aku tidak
memiliki rasa yang spesial untukmu. Bahkan ketika kita berproses pun rasa cinta
itu belum juga hadir. Namun, sejak kau beserta keluargamu datang untuk
melamarku, benih-benih cinta itu mulai tumbuh.
Tahukah
kau wahai calon imamku? Sudah banyak lelaki yang menyatakan cintanya kepadaku
dan menyatakan ingin menikahiku. Ketika banyak lelaki yang hanya berkata, kau
datang dengan aksi yang nyata. Hanya kau yang berani menghadap orangtuaku untuk
mengutarakan keseriusanmu menikahiku.
Tahukah
kau wahai calon suamiku? Aku selalu berdo’a, agar Allah meridhai setiap proses
yang kita lalui. Aku selalu menginginkan barakah dari-Nya.
Wahai
calon ayah dari anak-anakku, mari kita jaga hati-hati kita. Aku tahu, kau pun
memiliki rasa cinta untukku. Biarkan rasa cinta kita terbingkai dalam
ridha-Nya. Biarlah ia indah pada waktunya. Semoga Allah meridhai setiap langkah
kita. Aamiin.....
Ruang
sejuta mimpi, 11 September 2010
Malam semakin larut, kututup
buku diary-ku dan ku lirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 23.05. Tapi
mata ini tidak bisa kupejamkan. Jarang sekali aku merasa susah untuk tidur di
malam hari. Aku mengambil buku Pengantar Ilmu Hukum, barangkali setelah membaca
rasa kantuk akan datang. Dan benar saja, baru juga 15 menit aku membaca, aku
mulai mengantuk. Memang membaca buku yang penuh dengan teori itu membosankan.
Lain halnya dengan membaca buku cerita, novel misalnya, mataku sanggup bertahan
untuk menghabiskan seluruh halamannya. Bahkan aku pernah membaca novel yang
berjumlah 500 halaman hanya dalam waktu semalam!
***
Selesai mengajar, aku
iseng buka Fb, udah lama ga nengok beranda, hehe. Aku membuka notification,
hari ini tanggal 13 September Fathan ulang tahun. Ingin rasanya ku ucapkan
selamat dan menuliskan sebaris do’a. Tapi kuurungkan. Aku tidak berani. Lagian
buat apa, toh aku dan Fathan baru hanya sebatas Khitbah, kita belum ada ikatan
halal. Tapi tahukah kau Fathan, dalam diam kuterus mendo’akanmu. Semoga Allah
selalu menjagamu, mempermudah semua urusanmu. Dan semoga Allah sampaikan isi
hati ini melalui do’a yang khusus kutitipkan untukmu. Aku dan Fathan Insya Allah akan menikah di
bulan Maret. Keluargaku juga keluarganya telah merencanakan segala sesuatunya.
Aku dan Fathan awalnya tidak setuju, karena itu terlalu lama. Kita paham, bahwa
jarak khitbah ke pernikahan sebaiknya jangan terlalu lama, karena pasti akan
banyak godaannya, apalgi seorang akhwat. Tapi orangtua kami menjelaskan bahwa
mereka membutuhkan persiapan. Apalagi orangtuaku, yang kemarin sudah mengadaan
walimah pernikahan kakakku. Aku memang tak pernah tahu, apakah kedepannya semua
akan berjalan sesuai rencanaku, rencananya, rencana kami. Tapi satu yang membuatku selalu yakin, rencana-Nya adalah rencana
terbaik bagi kami. Aku yakin itu sepenuhnya. Dengan cara-Nya yang indah meski
hati terus ditempa untuk bersabar. Sebab kuyakin sabar itu berakhir indah.....
Menikah:
Ihdal Husnayain & Muhammad Fathan Mubina.
Maret 2011.
Sebuah Cerpen,
oleh: Eliana Rosy
Bagus banget, sampai sedih bacanya!!! :')
BalasHapus